Rasanya sudah lama sekali tidak membuka blog ini bahkan sepertinya aku mulai melupakan keberadaan blog ini. Beberapa bulan terakhir aku disibukkan dengan Ujian Nasional dan berbagai ujian tulis masuk perguruan tinggi. Entah aku yang terlalu membawa pusing atau emang kenyatannya ujian-ujian itu memusingkan kepala sampai akhirnya berat badan saya turun 5kg :')
Tapi bukan tentang berat badan yang akan aku ceritakan disini. Aku akan menceritakan perjalananku selama beberapa bulan terakhir yang akan aku ingat sampai kapanpun. Berawal dari Ujian Nasional yang soalnya tahun ini dipersulit oleh pemerintah. Mau tidak mau suka tidak suka harus dilewati oleh seluruh siswa kelas XII SMA seluruh Indonesia. Tingkat kesulitan soal yang ditingkatkan memang sedikit membuatku berputar otak saat mengerjakan soal Ujian Nasional. Terutama kimia. Dan hasilnya pelajaran favorit ku itu memiliki nilai terendah diantara nilai pelajaran yang lainnya. Sedih saat ku meliat nilai ujian ku itu. Tapi tak membuatku putus asa. Aku harus tetap melangkah maju untuk melanjutkan studiku di perguruan tinggi.
Saat hasil seleksi SNMPTN Undangan diumumkan. Aku tidak berhasil. Aku tak sedih karena aku sadar sejak menerima hasil UN itu, mana mungkin dengan nilai UN kimia rendah bisa masuk salah satu Fakultas Kedokteran negeri. Aku harus berjuang di ujian tulis dan memikirkan strategi selanjutnya yang harus aku lakukan agar masuk Fakultas Kedokteran. Meraih satu bangku kuliah kedokteran tidaklah mudah. Kemampuan otak kita memang benar-benar diuji. Karena menjadi dokter berarti mengutamakan keselamatan nyawa.
Dari Batam aku berangkat ke Jogja dan mendaftar untuk tes di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia Yogjakarta. Salah satu kampus swasta tertua di Indonesia itu kini memiliki akreditasi A. Bahkan Fakultas Kedokteran UII memiliki akreditasi A dan sertifikasi internasional. Entah kenapa tiba-tiba ada magnet yang menarikku untuk masuk di kampus itu. Mungkin karena akreditasi, kualitas, lingkungan, dan suasana yang nyaman. Aku mengikuti tes tertulis di kampus itu. Hari itu entah berapa peserta yang mengikuti ujian, tapi aku mendengar dari orang-orang atanya sekitar 800-an orang. Namanya ujian masuk kedokteran ya pasti susah dan hasilnya? aku gagal. Sedih rasanya, sempet nangis, tapi aku gak boleh berhenti disini.
Aku mencoba di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kampus ini memiliki akreditasi A. Tapi untuk Fakultas Kedokteran masih memiliki akreditasi B. Meskipun begitu, aku tetap berusaha untuk masuk fakultas Kedokteran. Kemudian aku ikuti tes nya dan hasilnya? aku gagal lagi. Ha. Ha. Ha.
Esok harinya aku berputar otak universitas mana yang aku ikuti lagi tes nya. Aku mencari info di google dan mencoba tes di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Kampus ini juga memiliki Fak. Kedokteran berakreditasi B. Aku ikuti tes nya dan hasilnya? aku gagal.
Tiga kali gagal membuatku sedikit putus asa. Aku nangis tiap malam tanpa sepengetahuan orang tua. Saat itu aku merasa emang gak bisa masuk pendidikan dokter. Persaingan yang ketat dan peserta yang mencapai ribuan membuatku down. Akhirnya aku pulang ke Batam. Memikirkan kembali langkah selanjutnya.
Satu bulan di Batam aku mengikuti bimbingan belajar. Sambil masih memikirkan dimana akan kulanjutkan perjuanganku. Papa menyarankan aku untuk mengikuti tes lagi di Jogja. Tapi sejujurnya saat itu aku udah nyerah buat masuk kedokteran. Karena aku pikir jurusan hubungan internasional atau pendidikan biologi juga bagus untukku. Aku menangis saat papa terus menasehatiku untuk jangan menyerah. Tapi karena semangat dari papa, mama, keluarga besar, dan pacar akhirnya aku sedikit luluh walau masih ragu saat itu.
Akhirnya aku kembali lagi ke jogja untuk mengikuti tes kedokteran gelombang selanjutnya. Sampai di Jogja esoknya aku langsung ujian di UII. Hasil ujian diumumkan minggu depan setelah ujian. Sambil menunggu hasilnya, aku mengikuti ujian di UMY. Agar kalaupun misalnya tes di UII aku tidak berhasil, aku masih punya harapan di UMY. Saat itu doaku hanya satu setiap solat. Kalaupun memang salah satu dari kampus itu adalah tempatku, mudahkanlah segala urusanku ya Allah.
Saat hari pengumuman tiba, aku dengan sangat deg-deg an membuka web UII dan Alhamdulillah segala puji bagi Allah namaku tertera diantara 30 orang yang diterima dari 600an peserta yang mengikuti tes saat gelombang itu. Aku begitu senang. Keesokan harinya adalah pengumuman hasil tes UMY dan namaku tertera lagi setelah bersaing dengan 1000-an peserta kala itu. Alhamdulillah. Rasanya Allah itu begitu dekat denganku. Ia mendengar semua doa dan tangisku. Hanya saja Ia hanya menyuruhku sedikit sabar sampai waktu yang tepat dan akhirnya aku tinggal memilih. Aku putuskan memilih UII. Selain karena akreditasi UII A, juga lingkungannya yang sejuk dan asri membuatku nyaman disana.
Sekian cerita dari saya, semoga bisa menjadi inspirasi buat teman-teman. Inti dari artikel saya kali ini adalah jangan putus asa. Kadang Tuhan hanya meminta kita untuk sedikit sabar. Keep moving forward :)
![]() |
| Life starts here |
Kiss by,
@ptriwn

No comments:
Post a Comment