Tuesday, July 24, 2012

Tugas Bahasa Indonesia

Membuat Cerpen

On The Way Jakarta - Solo


Pagi itu cuaca Kota Batam cukup bersahabat. Saya sudah boarding di Bandara Hang Nadim sejak pukul 7 Pagi. Padahal pesawat Lion Air tujuan Jakarta yang akan kami tumpangi baru akan terbang sekitar pukul 9.  Maklumlah, ini kali pertama saya dan mama naik pesawat. Jadi kami berdua sepertinya heboh sendiri pagi itu. Sebenarnya tujuan utama kami bukanlah Jakarta tapi Solo. Sesampai di Jakarta nanti kami akan berangkat ke terminal dan melanjutkan perjalanan  ke Solo dengan menaiki bus antar provinsi.
Tujuanku ke Solo untuk melanjutkan sekolah yang telah memasuki jenjang SMP. Emang sejak kelas 5 SD aku ingin melanjutkan sekolah di salah satu pondok pesantren di Kota itu.
Jadi saya berangkat bersama mama yang akan mengantarkan saya ke pesantren itu. Setelah menunggu selama 1 jam, akhirnya kami dipersilahkan menaiki pesawat. Perjalanan yang kami tempuh Batam-Jakarta selama 1 jam 30 menit . waktu yang cukup panjang bukan ?
Setibanya kami di bandara Soekarno Hatta. Kami mengambil bagasi dan lekas keluar dari bandara. Mama tampak mencari seseorang diantara para penjemput yang berdesak desakan . “Mama cari siapa ?” kataku “Tadi mama sms om Biger biar nganterin kita ke terminal” jawab mama sambil terus mencari “oouuh “ . Tak lama kemudian seorang lelaki tinggi mengenakan kaos blaster hijau putih dan celana jins menghampiri kami berdua, tak salah lagi itu om Biger. “Kak..” sapa lelaki itu “ooh iya .. langsung ke terminal saja ya” kata mama.
Kami pun bergegas keluar dari komplek bandara dan bergegas menuju terminal dengan menaiki taksi. Ternyata om Biger telah membelikan kami 2 buah tiket bis Lorena no. 16 tujuan Jakarta-Solo . Pada tiket tertulis bis kami akan berangkat jam 3 sore padahal jam tangan saya baru menunjukkan jam 11 . Masih ada waktu sekitar 4 jam lagi kami menunggu. “Biger, disekitar sini ada mall gak ? kami berdua mau cari makan siang dulu aja, di tiketnya juga ditulis berangkat jam 3. Masih lama juga”  kata mama “oohh iya, ada kak, kita ke mall aja dulu cari makan buat si Putri” kata om Biger yang langsung meminta kepada supir taksi agar berbelok ke sebuah mall.
Sementara kami mencari makan, Om Biger berkeliling keliling mall terpisah dengan kami berdua. Kami makan di salah satu rumah makan bakso di mall tersebut.  Harga makanan siap saji di Jakarta ternyata sangat mahal dibanding Batam. Kami hanya makan 2 porsi bakso beserta 2 gelas es the uang yang harus kami bayar berjumlah 87.000 rupiah. Hmmmhhh .. sedikit menyebalkan memang.
Selesai makan, mama membeli beberapa makanan ringan di supermarket mall itu sebagai makanan kami di bis nanti dan langsung bergegas menemui om Biger. Keluar dari mall tenyata kami akan menaiki sebuah bajai. Itu kali pertama saya menaiki kendaraan beroda tiga yang katanya paling berpolusi di Ibu Kota. Sampai di Terminal jam telah menunjukan pukul 2 siang. Om Biger cukup mengantarkan kami sampai di terminal saja kemudian ia bergegas pulang. Kami berdua mencari musolla terdekat dan melaksanakan solat Zuhur.
Selesai melaksanakan solat Zuhur kami berdua memilih duduk di mushola saja hingga menunggu bis kami tiba . kebetulan letak mushola dan terminal tidaklah terlalu jauh, dan tiap bus  yang telah tiba di umumkan menggunakan pengersa suara, sehingga kami mudah mengetahui bis Lorena 16 telah tiba atau belum.
Jam telah menunjukkan pukul 3, namun bis Lorena 16 tak juga disebut. “ma, koq bis kita gak dipanggil panggil ya ? dari tadi bis 26 sama bis 14 aja” tanyaku “iya ya put, orang  itupun daritadi teriak teriak terus manggilnya penumpang bis 26 itu, mana lah penumpangnya ” kata mama sambil menunjuk kesalah saktu kondektur bus yang memegang toa dan berteriak teriak “Lorena 26 26 26 26 ! Brangkat Brangkat ! ……” ntah apa yang kondektur itu katakan tapi saya acuhkan karena yang dipanggil penumpang Lorena 26 bukan 16 seperti yang tertulis di tiket kami.   “iiissss .. mana lah orang yang dipaggil kondektur ni. Tak mikir orang dah marah marah gitu tak naek naek nis pula dia” kata mama saya menggerutu sambil masih melihat kondektur itu.
Jam telah menunjukkan pukul 5 sore, 2 jam kami menunggu di Musholla ini. Tap Lorena 16 tak kunjung juga di panggil. Akhirnya karena bosan, saya berkeliling keliling sebentar. “ma .. bentar ya . mau beli minum bentar” kataku mencari alasan. “iya,, hati hati jangan lama lama” . saya berjalan mendekati bis bis yang terparkir di terminal. Kondektur itu ternyata masih berteriak teriak daritadi . Namun kali ini lebih panjang kalimatnya. Saya tak acuh pada pengumuman itu awalnya hingga akhirnya saya mendengar nama saya dipanggil. “kepada Putri d an Sulastri agar segera menaiki Lorena 26 sekarang ditunggu secepatnya !” suara itu tampak terdengar dengan nada marah dan kesal.
Tanpa pikir panjang saya langsung menemui mama dan mengatakan yang saya dengar. Mama pun langsung mengambil tas dan kami segera berlari menuju bis Lorena 26. Kondektur itu tampak marah . “Ibu gak denger ya daritadi Lorena 26 disuruh naik bis dari jam 3 tadi ?!?! “ kata kondektur itu dengan nada kesal. Namun mama juga membela diri “Di tiket ditulisnya Lorena 16, ini kan Lorena 26 ?” wajah kondektur itu tampak masih marah. Tiba tiba datang seorang wanita berumur 30 tahunan dngan membawa beberapa lembar kertas menghampiri kami dan kondektur itu.  “Maaf bu, memang ada kesalahan dari kami, terjadi kesalahan penulisan di tiket ibu . ibu sehrusnya naik bis 26 ini, tapi kami salah menulis jadi bis 16, sekali lagi maaf bu..” jelas wanita itu panjang lebar. “Jadi saya naik bis ini ?” Tanya mama meyakinkan. “iya bu, maaf bu sekali lagi”. 
                Kondektur itupun meminta maaf kepada kami berdua karena telah memarahi kami. Saat menaiki bis tampak seluruh penumpang telah tertidur . Tinggal 2 bangku kosong saja di pojokan yang kosong. Tampaknya kami telah membuat seluruh penumpang ini kesal menunggu kami selama 2 jam hingga semuanya telah tertidur pulas. Dalam hatiku sebenarnya ingin ketawa karena awalnya kami lah yang memarahi orang yang tak kunjung menaiki bis Lorena 26. Dan ternyata orang yang tak kunjung dating itu adalah saya dan mama sendiri.

-SELESAI-

No comments:

Post a Comment