"Rumahmu disebelah mana dek?" terdengar suara di seberang sana
"Abang dimana?"
"Udah di mesjid Hidayatullah, habis itu belok kemana?"
"Perumaha Buana View, sebelah utara mesjid. Lurus aja, perumahannya ada di sebelah kanan jalan"
"Haduh dimanaa? daritadi abang dah muter-muter. Ya udah deh, abang sholat isya dulu ya udah azan. Nanti abang cari lagi rumahmu"
"Awkaay.."
Sudah kali ke-3 ia menelpon untuk sekedar mencari rumahku. Memang sore harinya ia sudah mengatakan kalau ia ingin kerumahku untuk melepas rindu. Aku hanya senyum-senyum saja mendengar alasan itu keluar dari mulutnya. Tak lama kemudian, telepon genggamku kembali berbunyi. Dia lagi.
"Dek, adekmu sholat teraweh di Hidayatullah ya?" katanya
"Iya bang"
"Pakai Soul hitam, Peci putih, Baju hitam, Celana hitam?"
"Iya bang, kok tau?"
"Oke, abang minta tolong adekmu aja tunjukin rumahmu"
"oh oke deh"
Ia menemukan adikku di mesjid yang sama dimana ia berada saat itu. Setelah selesai melaksanakan sholat isya berjamaah, ntah bagaimana ceritanya, tak selang beberapa menit, adikku pulang dengan tertawa terbahak-bahak. "Kak, ada orang yang cari kakak, terus kami kerjain, pas jalan nyampe depan, aku tinggalin, hahaha" adikku tertawa lepas. Ketika itu aku sedang duduk di ruang tengah bersama ayah, ibu, tante, dan oom. Kami sekeluarga tertawa. Sebelumnya memang telah ku beri tau bahwa teman ku akan ada yang datang malam ini ke rumah. "Kiki gak boleh kayak gitu, jemput dia" Kata ayahku membela. Kami masih tertawa. Akhirnya setelah beberapa saat, ia sampai juga dirumahku mengenakan kemeja dengan motif garis-garis merah dan hitam serta celana panjang. Penampilannya begitu sederhana. Ia menyalami satu persatu anggota keluargaku kecuali aku yang masuk kamar untuk mengenakan jilbab. Saat aku keluar dari kamar,
"Hay, nemu rumahku juga" Kataku sambil menyalami tangannya. Ia duduk di sofa, dan aku mengambil tempat duduk di sampingnya.
"Iya, tadi aku dikerjain sama adekmu" sahutnya dengan muka sedikit cemberut
"Haha, Maaf ya, dia emang jail, sama orang baru aja digituin"
Percakapan awal itu berlanjut dengan perbincangan hangat yang dihiasi senyum-senyum bahagia antara aku dan dia. Beberapa saat kemudian, ayahku kemudian duduk disampingku, sehingga aku berada tepat duduk diantara dia dan ayahku. Mereka berkenalan, saling bercengkrama, membahas apapun yang berhubungan seputar seorang "laki-laki". Mulai dari pekerjaannya, pendidikannya, hingga keluarganya. Ah, aku menerima aura positif dari ayahku dengannya. Beberapa kali tawa renyah keluar diantara percakapan mereka berdua malam itu. Sesekali ayahku membicarakan hal-hal yang berhubungan dengaku hingga membuatku tersenyum malu. Namun suasana malam itu begitu hangat dan bersahabat. Hingga 15 menit kemudian ia memberanikan diri meminta izin pada ayah untuk membawaku jalan-jalan keluar sebentar. Ayahku membolehkan dengan batas jam 10 malam anak gadisnya harus pulang.
Yah, saat berjalan-jalan ia menceritakan kebahagiaan hatinya bisa membawaku atas dasar izin orang tuaku walaupun dibatas kan dengan jam. Aku hanya tersenyum saja melihatnya. Menurutku, ini awal yang baik. Ia berani datang kerumahku, berkenalan dengan ayah, ibu, adik, tante, oom, nenek, dan sepupuku. Ia juga nampaknya berhasil mengambil hati keluargaku. Biasanya, aku tak lagi diperbolehkan keluar malam dengan teman. Tapi dengannya aku diperbolehkan ayahku. Mungkin, dia tampil sebagai pribadi yang bisa dipercaya dan bertanggung jawab dari sikap, kepribadian dan tutur katanya. Entahlah. But, so far so good so brave. Good Job dear :)
Kiss by,

No comments:
Post a Comment